Demam
Apa rasanya kalau terkena demam? Biasanya sih ga enak, karena panas tinggi dan bikin pusing. Tapi yang ini sepertinya demam yang enak. Demam star wars. Inget kan beberapa saat yang lalu, sewaktu George Lucas lagi semangat-semangatnya ngeluarin seri terakhir dari rangkaian Trilogi Star Wars. Para Die Hard fansnya sampai datang ke pemutaran film berkostum ala karakter Star Wars. Saya sih bersenang-senang saja memperhatikan mereka yang tergila-gila itu, sibuk foto-foto dan bernostalgia dengan seri starwars yang pernah hadir saat saya masih balita.
Kalau kadar demam saya belum tinggi, nah ada teman saya yang kadar demamnya sudah masuk high feever. Teman saya itu, bahkan sampai sekarang, ada yang sangat tergila-gila dan punya koleksi apapun starwars. Nah diantara tumpukan demam Star Wars itu, saya menemukan sebuah kampanye yang menggunakan demam ini untuk good cause. Kampanye ini dipopulerkan 2 tahun (2006) lalu dan saya diperkenalkan pada kampanye ini 1 tahun yang lalu.
Good causenya karena star Wars dipergunakan sebagai parodi untuk mempopulerkan makanan organik (yang kebanyakan sayuran). Mereka yang membuat sadar betul cara promosi efektif. Mendompleng isu populer atau mendompleng sesuatu yang memang terkenal dan punya banyak fans. Film pendek ini diproduksi untuk mempromosikan makanan sehat tanpa polusi dan pestisida dengan mengutip jalan cerita Star Wars. Pemainnya semua adalah sayuran mulai dari Cuke Skywalker, Obi Wan Cannoli, Princess Lettuce, Ham Solo, Chewbroccoli, C3Peanuts, dan Tofu D2. It’s a fun film!
Kandang Burung
Apa menariknya sebuah kandang burung? Saya juga kurang bisa menangkapnya. Kecuali mungkin bagi para burung aficionado (hum kalimat ini konotasinya agak aneh ya?). Nah saya masih tidak menangkap mengapa sebuah kandang burung punya arti yang sangat besar, apalagi ketika saya membalik-balik halaman sebuah majalah franchise ibukota dan menemukan si kandang burung ini muncul di beberapa halaman dalam satu edisi.
Kandang burung yang dalam bahasa inggrisnya dinamakan bird cage yang sedang saya bahas disini adalah salah satu tempat makan yang mungkin akan jadi tempat yang hip dalam beberapa saat lagi (gimana ngga, promonya gila-gilaan). Di salah satu majalah franchise ibukota yang tadi saya sebut diatas, pada edisi Juni 2008, coba deh buka halaman 196. Saya mulai dari paling belakang yah, karena saya suka membaca majalah dari belakang.
Review 1
Si bird cage ini hadir di bagian buzz nightspot (halaman 196). Dalam review pertamanya ini, promosinya memang tidak terlalu bombastis, namun imagenya mendukung. Dikisahkan bahwa interior bird cage didominasi kayu dengan jendela super besar untuk memaksimalkan pencahayaan. Kemudian diterangkan juga kalau tempat ini menawarkan koleksi wine beragam (dan murah) serta koleksi martini yang katanya “juara”.
…dari imagenya saya lumayan tertarik untuk hadir mencoba duduk di posisi paling dekat kaca yang menghadap ke luar, sepertinya akan menyenangkan
Review 2
Secara spektakuler si bird cage ini hadir di 1 halaman sebelum buzz nightspot, yaitu di buzz dining (halaman 195!). Karena gak percaya saya sampai membaca ulang lokasi Bird Cage: Wijaya 9 no 23, yap sama persis. Ga salah ini restoran yang sama. Untungnya foto yang ditampilkan berbeda, kalau sama sih namanya copy paste yah. Apa yang dibahas sih kurang lebih sama, tapi penggunaan katanya agak sedikit berbeda. Tapi ya itu intinya sama sih, dominasi kayu, disekelilingi pepohonan dan jendela besar.
…dari penggambaran dan kalimat-kalimat ajakannya saya belum terlalu tertarik. Saya jadi bertanya-tanya keputusan dari review 1 tadi
Review 3
Daaan ini review penutup di halaman 14 bagian mens special edition. Ok secara struktur dia ada di sisipan sebenarnya. Tapi tetep lah, muncul 3 kali dalam 1 edisi. Pencapaian yang spektakuler. Yang ini gaya penyampaiannya juga paling beda diantara 2 artikel sebelumnya. Penggambarannya lebih menarik, mulai dari saran untuk memilih tempat outdoor untuk mereka yang ingin santai karena disana ada sofa bed atau mengarahkan kaki ke lantai 2 untuk mereka yang suka dengan gaya vintage sekaligus menikmati kandang burung yang diletakkan di langit-langit.
…yak akhirnya saya tertarik lagi untuk datang ke Kandang Burung ini.
Sayang, weekend kita ke birdcage yah…haha terkena promosi 3x berturut-turut dalam majalah. Seperti iklan murah yang diulang 3 kali yah.
All I Need
All I Need, ini adalah salah satu single dalam album terbarunya RadioHead yang judulnya Rainbows. Nah Radiohead rupanya bekerjasama dengan MTV EXIT (End Exploitation and Trafficking) ngebuat kampanye khusus untuk menyebarkan pesan sosial.
Sewaktu ngeliat clip ini, gue sampe bengong…soalnya video ini cerita soal kehidupan anak-anak dalam 2 kondisi yang beda banget. Satu anak bule yang diasosiasikan sebagai anak yang berada dan dengan kondisi ideal. Dan satu lagi anak asia yang diasosiasikan sebagai anak yang harus bekerja keras dan jadi buruh di usia yang masih muda.
International Labour Organization (ILO) mengestimasi kalau ada 218 juta anak berumur 5-17 tahun yang harus bekerja dan mereka berdomisili di negara berkembang. Diantara angka ini 112,3 juta bekerja di kawasan Asia-Pasifik, 49,3 bekerja di Afrika dan 5,7 juta bekerja di Amerika Latin dan kepulauan Karibia.
Dan, yang bikin saya lebih terperangah karena dalam video itu kalau diperhatikan di kolom si anak asia. Ada seorang cewek yang nampaknya bertugas jadi mandor si anak-anak ini dalam bekerja. Daaan dia pakai bahasa Indonesia, walau terdengarnya samar-samar.
“Hei semua!”
“ayo bangun-bangun-bangun!”
“ayo cepat”
“ayo kerja!”
Apa Indonesia memiliki kasus child labour terparah ya? Gue ngerasa beruntung untuk punya masa kecil normal.


